Belajar dari Janin: Bagaimana Kehamilan Mengubah Cara Saya Mengajar di Kelas

AYU 1
Dwi Ayu Siti Hartinah H., S.E., AK., M.Ak.

Oleh: Dwi Ayu Siti Hartinah H., S.E., AK., M.Ak.
———————————————————
Dosen Akuntansi, Universitas Negeri Makassar

SEBAGAI dosen muda, saya terbiasa melangkah ke ruang kelas dengan ambisi yang meluap dan standar profesionalisme yang kaku, di mana fokus utama saya adalah presisi dalam menyampaikan setiap poin silabus serta menjaga citra otoritatif agar tetap dihormati di hadapan mahasiswa yang usianya mungkin tidak terpaut jauh.

Namun, kehadiran detak jantung kecil di dalam rahim pada semester ini telah menjadi guru paling jujur yang pernah saya miliki, karena janin saya bukan hanya mengubah fisik dan rutinitas harian, melainkan merombak total cara saya memandang esensi pendidikan serta kedalaman hubungan emosional saya dengan para mahasiswa.

Bacaan Lainnya

Kehamilan ini seolah menjadi “asisten dosen” gaib yang setiap harinya membisikkan bahwa di balik setiap angka dan teori yang saya ajarkan, ada kehidupan yang jauh lebih luas yang harus dirawat dengan penuh ketelitian dan empati.

Pelajaran paling berharga yang saya petik dari kehidupan kecil di dalam rahim adalah tentang seni menunjukkan kerentanan yang berwibawa di tengah tuntutan akademik yang sering kali tak kenal lelah. Dahulu, saya merasa harus tampak sempurna dan tanpa celah di depan podium untuk menjaga kredibilitas, namun kehamilan memaksa saya untuk meruntuhkan dinding pembatas tersebut.

Ada momen-momen saat saya harus berhenti sejenak untuk mengatur napas di tengah penjelasan materi yang rumit atau meminta bantuan mahasiswa untuk hal-hal teknis karena keterbatasan fisik yang tiba-tiba menyerang.

Menariknya, kejujuran terhadap kondisi fisik ini tidak membuat otoritas saya luntur, melainkan justru membangun jembatan empati yang luar biasa tulus; mahasiswa menjadi lebih suportif dan kelas berubah menjadi ruang yang lebih manusiawi di mana kami belajar untuk saling menghargai batasan satu sama lain.

Lebih jauh lagi, kehamilan telah mengubah paradigma saya dalam memandang proses belajar sebagai sebuah masa inkubasi panjang yang menuntut kesabaran ekstra, jauh dari sekadar mengejar target kelulusan instan. Jika dahulu saya cenderung menuntut hasil yang cepat dan sempurna dari setiap tugas, kini janin saya mengajarkan bahwa segala sesuatu yang bernyawa—termasuk ide dan pemikiran—memerlukan waktu untuk tumbuh, matang, dan akhirnya siap untuk dilahirkan.
Saya mulai melihat setiap mahasiswa sebagai sosok yang sedang dalam masa pertumbuhan intelektual mereka masing-masing, yang butuh bimbingan tanpa tekanan berlebih. Saya belajar untuk memelihara potensi mereka dengan cara yang sama seperti saya menjaga kesehatan janin, yakni dengan memberikan asupan pengetahuan yang tepat dan memberikan ruang yang cukup bagi mereka untuk berproses secara mandiri.

Mengajar sebagai dosen muda yang sedang mengandung adalah sebuah perjalanan spiritual untuk merawat dua jenis masa depan secara simultan dengan tanggung jawab yang sama besarnya. Satu masa depan sedang saya persiapkan dengan penuh cinta di rumah bersama suami, sementara puluhan masa depan lainnya sedang saya bimbing melalui diskusi-diskusi kritis di ruang kelas.

Kehadiran bayi ini memperdalam rasa tanggung jawab etis saya dalam setiap kata yang saya sampaikan, karena saya merasa sedang memberikan “kuliah pertama” bagi anak saya melalui tindakan nyata di depan kelas. Saya menyadari bahwa puncak tertinggi dari profesi dosen bukan hanya terletak pada produktivitas jurnal atau gelar akademik, melainkan pada kemampuan kita untuk menyentuh jiwa mahasiswa dengan kesabaran, integritas, dan kasih sayang yang kini saya pelajari setiap detik dari gerakan halus janin di dalam diri.(*)

Pos terkait