BI Naikkan Insentif KLM Jadi 6%

BI Naikkan Insentif KLM Jadi 6
FOTO:IST//INTERMEDIASI. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti bersama Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dan Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia.
banner 468x60

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Bank Indonesia (BI) mendorong likuiditas perbankan agar semakin efektif mengalir ke sektor produktif, khususnya UMKM dan sektor prioritas yang memiliki dampak besar terhadap perekonomian nasional.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, penguatan intermediasi perbankan menjadi penting untuk memastikan ketersediaan likuiditas tidak hanya tersimpan di perbankan, tetapi dapat dimanfaatkan untuk memperluas usaha, meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja.

Upaya tersebut dilakukan melalui kebijakan yang lebih tertarget, termasuk penyempurnaan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Kebijakan KLM disesuaikan dengan kondisi masing-masing bank dan diarahkan untuk memperkuat penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif.

Bacaan Lainnya

“Karena itu, sinergi dengan Pemerintah dan dunia usaha menjadi penting untuk memastikan likuiditas yang tersedia benar-benar bermuara pada ekspansi usaha, peningkatan produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja,” kata Destry dalam diskusi Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, di Jakarta, pekan lalu.

Dalam kesempatan tersebut, BI menaikkan insentif KLM dari 5,5% menjadi 6% mulai September 2026. Hingga awal Agustus 2026, total insentif yang telah diperoleh perbankan mencapai Rp446,5 triliun atau setara 5,02% dari Dana Pihak Ketiga (DPK).

Destry menilai, penguatan intermediasi juga harus didukung dari sisi permintaan. Masih besarnya undisbursed loan dinilai menjadi ruang yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan kredit ke depan.

Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, likuiditas perbankan yang memadai perlu ditransmisikan secara efektif menjadi pembiayaan sektor riil agar memberikan daya ungkit lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Saat ini, pertumbuhan kredit terjadi baik pada bank Himbara maupun bank swasta.

“Ke depan, tantangannya bukan hanya menjaga pertumbuhan kredit secara agregat, tetapi memastikan likuiditas semakin mengalir ke sektor-sektor produktif dan UMKM sehingga lebih inklusif dan memberikan multiplier effect yang lebih besar bagi perekonomian,” kata Friderica.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyebut kondisi perbankan nasional tetap sehat, ditopang permodalan yang kuat, risiko kredit yang rendah dan pertumbuhan DPK. Ia menekankan pentingnya menjaga disiplin pasar agar persaingan penghimpunan dana tetap sehat dan tidak meningkatkan biaya dana perbankan.

BI bersama OJK, LPS, pemerintah dan pelaku usaha terus memperkuat Sinergi Merah Putih untuk memastikan likuiditas perbankan memberikan dampak lebih besar terhadap sektor produktif. Sinergi tersebut diarahkan untuk memperkuat pembiayaan UMKM, meningkatkan produktivitas dunia usaha dan menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (*)

Pos terkait