RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat bersama industri jasa keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus mendorong budaya menabung sejak dini.
Upaya tersebut dilakukan melalui Puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan (BLK) 2026 di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 (SRT 3) Sulawesi Selatan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, belum lama ini.
Kegiatan tersebut diikuti 570 siswa dari tiga Sekolah Rakyat di Kota Makassar, yakni SRT 3 Sulsel, Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar dan SRMP 26 Makassar. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan sekaligus menanamkan kebiasaan menabung serta kedisiplinan dalam mengelola uang kepada pelajar.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan Abdul Malik Faisal yang mewakili Gubernur Sulsel membuka kegiatan tersebut. Turut hadir Kepala OJK Sulselbar Moch. Muchlasin, Direktur Utama Bank Sulselbar Yulis Suandi dan Deputi Kepala Perwakilan LPS III Sulampua Prayitno Amigoro.
Abdul Malik Faisal mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Penguatan literasi dan inklusi keuangan dinilai menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda yang mandiri, serta mampu mengelola keuangan secara bijak.
Kepala OJK Sulselbar Moch. Muchlasin mengatakan, menabung merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar bagi masa depan. Menurutnya, kebiasaan tersebut tidak harus dimulai dengan nominal besar, tetapi cukup dengan menyisihkan sebagian uang saku atau uang jajan secara rutin.
“Yang terpenting bukan seberapa besar uang yang ditabung, tetapi kebiasaan dan kedisiplinan untuk menyisihkan sebagian uang secara konsisten,” kata Muchlasin.
Muchlasin menjelaskan, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, indeks literasi keuangan kelompok umur pelajar 15-17 tahun tercatat 56,04%. Sementara indeks inklusi keuangan pelajar dan mahasiswa mencapai 89,13%.
Kondisi ini menunjukkan akses terhadap produk dan layanan keuangan sudah cukup tinggi, namun pemahaman pelajar terhadap produk dan layanan tersebut masih perlu diperkuat.
Karena itu, edukasi keuangan sejak dini dinilai penting agar pelajar mampu mengelola uang secara bijak, membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun prioritas, serta menyisihkan sebagian uang untuk ditabung. Pelajar juga perlu memahami cara membedakan produk dan layanan keuangan yang resmi, legal dan berizin dengan yang tidak resmi.
Komitmen memperluas inklusi keuangan pelajar turut ditunjukkan Bank Sulselbar, dengan membuka Rekening Simpanan Pelajar (SimPel) iB bagi seluruh siswa Sekolah Rakyat yang hadir.
Sementara LPS memberikan edukasi mengenai pentingnya menabung serta keamanan dan penjaminan simpanan di bank. Sinergi OJK, LPS dan Bank Sulselbar tersebut diharapkan mampu membentuk generasi muda yang cerdas, bijak dan inklusif secara finansial.
Melalui momentum HIM dan BLK 2026, OJK mengajak pelajar menjadikan menabung sebagai kebiasaan sehari-hari. Menabung tidak hanya dipandang sebagai aktivitas menyimpan uang, tetapi juga bagian dari pembentukan disiplin dan perencanaan masa depan untuk mewujudkan cita-cita. (*)














