DPK Melambat, Kredit Justru Melesat hingga 13%

grafis
banner 468x60

RUANGAKSELERASI.ID, JAKARTA — Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan mengalami perlambatan pada Juli 2026. Di tengah kondisi tersebut, penyaluran kredit justru menunjukkan akselerasi, menandakan aktivitas pembiayaan perbankan masih bergerak positif.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengatakan, DPK pada Juli 2026 tercatat Rp9.666,9 triliun atau tumbuh 7,7 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan Juni 2026 sebesar 8,1 persen.

Perlambatan terutama dipengaruhi penurunan pertumbuhan simpanan berjangka yang hanya mencapai 4,8 persen yoy, dari sebelumnya 6,2 persen. Sementara pertumbuhan giro meningkat menjadi 10,5 persen dari 10,2 persen, sedangkan tabungan relatif stabil di level 8,2 persen.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan kelompok nasabah, perlambatan DPK terutama terjadi pada segmen korporasi. DPK korporasi tumbuh 12,5 persen yoy pada Juli, sedikit turun dari 12,7 persen pada Juni. Adapun DPK perorangan relatif stabil dengan pertumbuhan 2,8 persen.

Di sisi lain, penyaluran kredit perbankan menunjukkan kinerja yang lebih agresif. Pada Juli 2026, kredit mencapai Rp8.970,2 triliun atau tumbuh 13 persen yoy, meningkat dibandingkan pertumbuhan Juni sebesar 12,1 persen.

Akselerasi kredit didorong peningkatan pembiayaan kepada korporasi dan perorangan. Kredit korporasi tumbuh 20,9 persen yoy, naik dari 19,3 persen pada bulan sebelumnya. Sementara kredit kepada perorangan tumbuh 3,6 persen, sedikit meningkat dari 3,5 persen.

Dari sisi penggunaan, penguatan kredit terutama ditopang Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI). KMK tumbuh 11,6 persen yoy, meningkat signifikan dari 9,6 persen pada Juni. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong pembiayaan sektor listrik, gas dan air bersih, industri pengolahan, serta konstruksi.

Sementara itu, Kredit Investasi menjadi salah satu motor utama pertumbuhan dengan akselerasi hingga 23,1 persen yoy, dari 22,5 persen pada Juni. Peningkatan tersebut terutama berasal dari sektor konstruksi dan jasa-jasa.

Berbeda dengan kredit produktif, Kredit Konsumsi (KK) justru mengalami perlambatan. Pertumbuhannya tercatat 5,3 persen yoy pada Juli, turun dari 5,7 persen pada Juni. Kredit kendaraan bermotor bahkan masih mengalami kontraksi sebesar 10 persen.

Sektor properti juga mencatat perkembangan positif. Kredit properti tumbuh 18,4 persen yoy pada Juli, meningkat dari 17,6 persen pada Juni. Pertumbuhan terutama ditopang kredit konstruksi yang melesat 49,7 persen dan kredit real estat sebesar 16 persen.

Sementara itu, kredit UMKM mulai menunjukkan perbaikan. Penyalurannya tumbuh 1,6 persen yoy pada Juli, meningkat dari 1 persen pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan terjadi pada seluruh skala usaha mikro, kecil, dan menengah.

Akselerasi kredit UMKM terutama bersumber dari kredit investasi yang tumbuh 14,2 persen yoy. Sementara kredit modal kerja masih mengalami kontraksi 3,8 persen, meski menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya.

Di tengah akselerasi kredit, suku bunga juga mengalami peningkatan. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Juli 2026 tercatat 8,86 persen, naik dari 8,79 persen pada Juni.

Kenaikan juga terjadi pada suku bunga simpanan berjangka untuk seluruh tenor. Suku bunga tenor satu bulan tercatat 5,03 persen, tiga bulan 5,53 persen, enam bulan 5,44 persen, 12 bulan 5,75 persen, dan 24 bulan 4,01 persen.

Data tersebut menunjukkan dinamika perbankan yang menarik: pertumbuhan dana yang dihimpun melambat, tetapi penyaluran pembiayaan justru semakin kencang, terutama untuk kebutuhan modal kerja, investasi, konstruksi, dan sektor produktif.(*)

Pos terkait