Defisit Neraca Pembayaran Kuartal II-2026 US$ 900 Juta

defisit
banner 468x60

RUANGAKSELERASI.ID, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II-2026 tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. NPI pada kuartal II-2026 mencatat defisit US$ 0,9 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan dengan defisit pada kuartal I-2026 sebesar US$ 9,1 miliar.

Transaksi berjalan mencatat defisit didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga.

Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diprakirakan temporer. Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia.

Bacaan Lainnya

Surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi. Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada kuartal-I 2026.

Disampaikan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya Jumat, (21/8/2026), dengan kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2026 tercatat sebesar US$ 12,5 miliar dolar atau 3,3% dari PDB, melebar dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar US$ 3,6 miliar atau 1,0% dari PDB.

“BI mencatat transaksi modal dan finansial mengalami surplus didukung oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga dapat menopang NPI,” ujarnya.

Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada kuartal sebelumnya. Ini dipengaruhi oleh terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.

Investasi portofolio juga mencatat surplus yang meningkat seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik. Sementara itu, investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah.

Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar US$ 12,0 miliar pada kuartal II-2026, setelah pada kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$ 4,8 miliar.

Ke depan, BI melihat prospek NPI diprakirakan tetap baik sehingga mendukung ketahanan eksternal. Defisit transaksi berjalan diprakirakan lebih rendah didukung perbaikan prospek ekspor sejalan kenaikan harga komoditas global, termasuk harga komoditas unggulan ekspor Indonesia, dan dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).

Transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap surplus ditopang oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing seiring imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik dan prospek ekonomi Indonesia yang positif.(*)

Pos terkait