RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tumbuh 5,26% (yoy), meningkat dibandingkan realisasi 5,11% pada 2025. Proyeksi tersebut ditopang kinerja investasi yang dinilai semakin positif mengimbangi konsumsi rumah tangga.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29% (yoy), melambat dari 5,61% pada kuartal I. Secara kumulatif, ekonomi nasional pada semester I 2026 tumbuh 5,45%, lebih tinggi dibanding 5,00% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Josua, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama, namun pertumbuhannya melandai dari 5,52% menjadi 5,06% seiring normalisasi belanja pasca-Lebaran. Sebaliknya, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menguat dari 5,96% menjadi 6,87% pada kuartal II 2026.
“Ini sinyal positif bahwa pertumbuhan tidak lagi bertumpu tunggal pada belanja masyarakat, meski konsistensi investasi ke depan tetap perlu dijaga di tengah tantangan eksternal,” terang Josua dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal II 2026, Senin (10/8/2026).
Penguatan investasi terutama terlihat pada bangunan dan struktur yang tumbuh 6,61% dari 5,29% pada kuartal sebelumnya. Namun, investasi mesin dan perlengkapan melambat menjadi 1,32% dari 10,78%, sejalan dengan pelemahan aktivitas manufaktur.
Konsumsi rumah tangga tetap terjaga oleh musim libur sekolah, keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta ekspansi ekonomi digital. Daya beli juga mendapat dukungan dari inflasi yang mereda menjadi 2,88% pada Juli 2026.
Dari sisi sektoral, Listrik dan Gas mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81%, berbalik dari kontraksi 0,99% pada kuartal sebelumnya. Sementara Pertambangan dan Penggalian terkontraksi 1,64%, sedangkan Industri Pengolahan melambat menjadi 4,52% dari 5,04%.
Head of Industry and Regional Research Permata Bank, Adjie Harisandi, mengatakan pemulihan PMI manufaktur ke level 50,2 pada Juli 2026 menjadi sinyal positif setelah sempat terkontraksi pada Juni. Sejumlah subsektor berorientasi ekspor, seperti Tekstil dan Alas Kaki, juga menunjukkan penguatan.
Meski demikian, PIER memperkirakan pertumbuhan ekonomi menghadapi tantangan pada semester II 2026, terutama ketidakpastian global, perang dagang, ketegangan geopolitik dan pemulihan ekonomi Tiongkok yang masih tertahan. Tantangan fiskal juga diperkirakan menahan momentum pertumbuhan pada kuartal III dan IV, meski ekonomi tetap diproyeksikan tumbuh di atas 5%.
PIER menilai konsistensi investasi serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci menjaga pertumbuhan ekonomi tetap seimbang dan berkelanjutan. (*)









