RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Peristiwa hijrah Rasulullah SAW ke Madinah merupakan tonggak penting dalam sejarah Islam.
Bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, momen ini menandai lahirnya tatanan baru dalam kehidupan umat Islam, dari tekanan dan siksaan di Makkah menuju pembentukan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Ilahi di Yatsrib yang kelak dikenal sebagai Madinah al-Munawwarah.
Hijrah tidak hanya mencerminkan dimensi fisik semata, tetapi juga membawa perubahan mendalam dalam aspek spiritual, sosial, dan politik. Dengan hijrah, terbukalah pintu bagi pembentukan komunitas Muslim yang lebih terorganisir, kuat, dan mandiri. Rasulullah SAW menunjukkan bahwa perjuangan menegakkan agama Allah menuntut perencanaan matang, keberanian, serta pengorbanan yang luar biasa.
Berikut adalah lima perubahan besar yang dihasilkan dari Hijrah Nabi ke Madinah—dampak yang tak hanya relevan dalam sejarah masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam masa kini.
Terbentuknya Pemerintahan Islam yang Merdeka dan Berdaulat
Hijrah membuka jalan bagi berdirinya entitas politik Islam yang pertama, dengan Rasulullah SAW sebagai kepala negara sekaligus pembimbing spiritual. Di Madinah, beliau berhasil menyatukan berbagai suku, termasuk Aus dan Khazraj, yang sebelumnya terpecah belah akibat konflik.
Pemersatuannya ditandai dengan disusunnya Piagam Madinah, dokumen konstitusional yang memberikan hak dan perlindungan kepada seluruh warga kota, baik Muslim maupun non-Muslim. Ini menjadi contoh awal dari tata pemerintahan inklusif yang mengakui keberagaman masyarakat.
Hijrah juga memungkinkan diterapkannya syariat Islam secara menyeluruh dalam aspek kehidupan, dari hukum hingga sistem sosial. Model pemerintahan Rasulullah menekankan keadilan, musyawarah, dan kepemimpinan yang amanah—nilai-nilai yang tetap relevan hingga kini dalam membangun sistem kenegaraan yang adil dan berpihak pada rakyat.
Ukhuwah Islamiyah: Kekuatan dari Persaudaraan Muhajirin dan Anshar
Perjalanan hijrah membawa serta kaum Muhajirin dari Makkah, yang harus memulai hidup dari awal di tanah baru. Untuk menghindari ketimpangan sosial, Rasulullah mempersaudarakan mereka dengan kaum Anshar, penduduk Madinah yang telah lebih dahulu memeluk Islam.
Tindakan ini bukan hanya bentuk kebijakan sosial, tapi juga penanaman nilai solidaritas yang mendalam. Kaum Anshar menunjukkan sikap dermawan dan ikhlas, dengan membagi tempat tinggal, harta, bahkan bisnis mereka demi membantu saudaranya dari Makkah.
Ikatan ini mencerminkan bahwa dalam Islam, persaudaraan berdasarkan iman jauh lebih utama daripada hubungan darah atau kesukuan. Ukhuwah seperti ini menjadi fondasi kokoh masyarakat Muslim yang saling mendukung dalam kondisi apa pun.
Di era sekarang, semangat ini menjadi contoh dalam mengatasi berbagai perpecahan umat. Persatuan dan solidaritas tetap menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global, baik secara politik, sosial, maupun spiritual.
Islam Menjadi Terbuka dan Sistematis
Sebelum hijrah, dakwah Islam dijalankan secara sembunyi-sembunyi akibat ancaman dan intimidasi dari kaum Quraisy. Namun, setelah Rasulullah menetap di Madinah, misi dakwah mengalami transformasi besar: dari gerakan bawah tanah menjadi sistem dakwah yang terbuka dan terorganisir.
Madinah menyediakan ruang bebas bagi Rasulullah untuk menyampaikan ajaran Islam melalui berbagai pendekatan—baik khutbah, penetapan hukum, diplomasi, maupun kebijakan publik. Dakwah kini menjadi bagian dari pembangunan masyarakat, didukung oleh institusi-institusi seperti Baitul Mal, pengadilan Islam, serta sistem pendidikan dan militer.
Rasulullah juga mencontohkan metode dakwah yang penuh kelembutan dan keteladanan. Alih-alih memaksakan kepercayaan, beliau mengajak masyarakat melalui akhlak dan keadilan, sehingga banyak yang masuk Islam dengan kesadaran penuh.
Strategi dakwah pasca-hijrah mengajarkan kita bahwa perubahan besar tidak bisa dipaksakan, melainkan harus dibangun melalui proses yang bijak, terstruktur, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.
Islam Menjadi Kekuatan yang Diakui Secara Internasional
Hijrah mengangkat posisi Islam dari gerakan keagamaan minoritas menjadi kekuatan politik yang disegani di wilayah Arab. Madinah berubah menjadi pusat pemerintahan Islam, tempat lahirnya strategi diplomasi, perjanjian, dan relasi internasional.
Rasulullah mengirim surat kepada berbagai penguasa dunia—seperti Kaisar Romawi, Raja Persia, dan penguasa Mesir—yang berisi ajakan kepada Islam dan memperkenalkan tatanan kehidupan baru. Ini menandai awal hubungan internasional Islam dan menunjukkan keberanian serta visi global umat Muslim.
Dari Madinah, dakwah Islam mulai meluas ke berbagai penjuru dunia, mencakup Persia, wilayah Romawi Timur, Afrika, dan Asia. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tapi juga sistem peradaban yang mampu mengelola masyarakat majemuk secara harmonis.
Sebagai refleksi, Hijrah mengajarkan pentingnya berpikir luas, membuka dialog antarbangsa, dan menunjukkan bahwa Islam membawa pesan universal: kedamaian, keadilan, dan rahmat bagi seluruh alam.
Penetapan Kalender Hijriyah dan Spirit Hijrah dalam Kehidupan Muslim
Salah satu warisan terpenting dari hijrah adalah penetapan kalender Hijriyah. Khalifah Umar bin Khattab RA menjadikan tahun hijrah sebagai awal penanggalan Islam karena signifikansinya dalam sejarah perjuangan umat.
Namun, hijrah bukan hanya momen sejarah—ia merupakan simbol dari perubahan spiritual dan moral. Hijrah mengajarkan umat Islam untuk meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan beralih menuju kehidupan yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah SWT.
Setiap Muslim dianjurkan untuk terus melakukan hijrah secara batiniah: memperbaiki diri, menumbuhkan akhlak mulia, serta berkontribusi positif dalam masyarakat. Dalam konteks kekinian, hijrah bisa bermakna pembaruan cara berpikir, peningkatan kualitas hidup, hingga kebangkitan ekonomi dan sosial yang berbasis iman.
Seperti tertuang dalam Al-Qur’an:
“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…”
(QS. An-Nisa: 100)
Hijrah sebagai Pilar Perubahan dan Pembangunan Peradaban
Dampak dari Hijrah Nabi ke Madinah menjadi bukti bahwa perjuangan dan perubahan memerlukan strategi, keberanian, dan ketulusan. Dari pendirian negara Islam, penguatan ukhuwah, reformasi dakwah, pengaruh global, hingga transformasi spiritual—semua berakar dari peristiwa hijrah.
Hari ini, umat Islam dipanggil untuk meneladani semangat hijrah dalam menghadapi tantangan zaman. Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan meninggalkan segala bentuk stagnasi menuju kemajuan yang berpijak pada nilai-nilai Islam.
Hijrah Nabi SAW telah menorehkan jejak peradaban. Kini giliran kita menjaga dan melanjutkannya, membangun masyarakat yang adil, inklusif, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.(*)












