Potensi Carbon Capture and Storage dalam Mengurangi Dampak Perubahan Iklim

photo 1630561536836 7d993636a33d

MAKASSAR, RUANGAKSELERASI.ID -Perubahan iklim, yang dipicu oleh tingginya konsentrasi gas rumah kaca terutama karbon dioksida (CO2) di atmosfer, menuntut solusi yang tidak hanya berfokus pada transisi energi terbarukan, tetapi juga pada penghapusan emisi yang sulit dihindari (hard-to-abate emissions).

Di sinilah teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) muncul sebagai salah satu pilar kritis dalam strategi mitigasi global.

CCS adalah proses teknologi yang kompleks namun vital, yang melibatkan penangkapan CO2 dari sumber emisi industri skala besar seperti pembangkit listrik, pabrik semen, dan kilang minyak, memindahkannya, dan kemudian menyimpannya secara permanen di bawah tanah agar tidak dilepaskan ke atmosfer. Potensi CCS dalam mencapai target iklim global adalah sangat besar.

Bacaan Lainnya

Tiga Tahapan Kunci CCS

Efektivitas CCS dalam memerangi perubahan iklim terletak pada keberhasilan integrasi tiga langkah utamanya:

1. Penangkapan Karbon (Capture)

Tahap pertama adalah menangkap CO2 sebelum dilepaskan ke udara. Ada tiga metode utama penangkapan:

  • Pascabakar (Post-combustion): Metode ini paling umum dan diterapkan pada emisi gas buang yang sudah terbentuk. CO2 dipisahkan menggunakan pelarut kimia (amin) yang menyerap gas tersebut.
  • Prabakar (Pre-combustion): Karbon dihilangkan sebelum bahan bakar dibakar. Bahan bakar diubah menjadi gas sintetik (H2 dan CO2), dan CO2 kemudian dipisahkan. Proses ini sering dikaitkan dengan produksi hidrogen biru.
  • Pembakaran Oksigen Murni (Oxyfuel Combustion): Bahan bakar dibakar menggunakan oksigen murni, menghasilkan gas buang yang hampir murni CO2 dan H2O, yang membuat pemisahan menjadi lebih mudah.

2. Transportasi Karbon (Transport)

Setelah ditangkap dan dikompresi, CO2 diangkut dari lokasi penangkapan ke tempat penyimpanan. Transportasi umumnya dilakukan melalui jaringan pipa bertekanan tinggi yang mirip dengan yang digunakan untuk gas alam. Di masa depan, pengangkutan melalui kapal juga dapat digunakan, terutama untuk proyek lepas pantai.

3. Penyimpanan Karbon (Storage)

Tahap terakhir adalah penyimpanan permanen. CO2 disuntikkan jauh ke dalam formasi geologi di bawah tanah (kedalaman minimal 800 meter). Tempat penyimpanan ideal mencakup:

  • Lapisan Aquifer Air Asin Dalam (Deep Saline Aquifers): Formasi batuan berpori yang sangat dalam yang airnya terlalu asin untuk digunakan. Ini dianggap memiliki kapasitas penyimpanan terbesar di dunia.
  • Lapangan Minyak atau Gas yang Habis (Depleted Oil and Gas Reservoirs): Sumur minyak dan gas yang telah selesai dieksploitasi, karena formasi ini secara alami telah terbukti mampu memerangkap fluida selama jutaan tahun. Penyimpanan di sini juga sering dikaitkan dengan Enhanced Oil Recovery (EOR).
  • Lapisan Batubara yang Tidak Dapat Ditambang (Unmineable Coal Seams): Karbon dioksida dapat diserap oleh batubara, menggantikan metana yang dapat dipanen untuk energi (Enhanced Coal Bed Methane Recovery/ECBM).

Peran Kritis CCS dalam Mencapai Net-Zero

Potensi CCS jauh melampaui sekadar mengurangi emisi dari pembangkit listrik; ia adalah jembatan menuju ekonomi net-zero emissions.

Mengatasi Emisi Industri yang Sulit Dihindari

Beberapa sektor industri seperti produksi semen, baja, dan petrokimia secara inheren menghasilkan CO2 melalui proses kimia, terlepas dari sumber energinya.

Sebagai contoh, dekarbonisasi kalsium karbonat dalam produksi semen secara langsung menghasilkan CO2. CCS adalah satu-satunya solusi skala besar yang layak untuk menghilangkan emisi proses ini. Tanpa CCS, dekarbonisasi total industri-industri ini hampir mustahil dilakukan.

Pasangan Ideal untuk Produksi Hidrogen Biru

CO2 yang ditangkap melalui proses Pre-combustion (seperti yang disebutkan sebelumnya) dapat digunakan untuk menghasilkan hidrogen biru. Hidrogen yang dihasilkan dari gas alam, dengan emisi CO2 ditangkap dan disimpan.

Hidrogen biru berfungsi sebagai bahan bakar bersih untuk sektor transportasi dan pembangkit listrik, sementara CCS memastikan siklus produksi ini memiliki jejak karbon yang rendah.

Mendukung Carbon Removal

CCS juga berperan penting dalam teknologi Penghilangan Karbon (Carbon Dioxide Removal/CDR) seperti Bioenergi dengan Penangkap dan Penyimpanan Karbon (Bioenergy with Carbon Capture and Storage/BECCS) atau Penangkapan Udara Langsung (Direct Air Capture/DAC).

  • BECCS: Tanaman menyerap CO2 (negatif) saat tumbuh, kemudian diolah menjadi energi, dan CO2 yang dihasilkan dari pembakaran ditangkap dan disimpan. Secara keseluruhan, proses ini menghasilkan emisi karbon negatif.
  • DAC: Teknologi ini menangkap CO2 langsung dari udara ambien. DAC memerlukan penyimpanan melalui proses CCS untuk mengunci karbon secara permanen, secara aktif mengurangi konsentrasi CO2 atmosfer.

Tantangan dan Prospek Global

Meskipun potensi ilmiahnya terbukti, penerapan CCS menghadapi hambatan yang signifikan, terutama terkait biaya awal yang tinggi, regulasi yang memadai, dan persepsi publik.

Namun, dengan komitmen iklim yang meningkat dan tekanan untuk mencapai target Perjanjian Paris, investasi dalam CCS sedang meningkat pesat. Indonesia, misalnya, memiliki potensi penyimpanan geologis yang besar, menjadikannya lokasi yang ideal untuk mengembangkan hub CCS regional, menarik investasi asing, dan memimpin inisiatif mitigasi iklim.

Dengan mengintegrasikan CCS ke dalam portofolio solusi iklim global, kita tidak hanya mengurangi emisi saat ini tetapi juga membangun infrastruktur yang diperlukan untuk mengatasi emisi masa lalu dan memastikan transisi energi yang adil dan berkelanjutan.

Pos terkait