RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Keberadaan pesantren ramah anak merupakan salah satu bagian terpenting dari visi pemerintah dalam membangun generasi emas, khususnya di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Saat pesantren menjadi ruang yang aman dan penuh kepercayaan, maka santri akan tumbuh dengan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional yang matang, serta kedalaman spiritual yang kokoh.
Hal tersebut diungkap Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sulawesi Selatan, Prof. Muhammad Jufri saat membuka Puncak Awarding Pesantren Ramah Anak Sulawesi Selatan Tahun 2025 di Hotel IBIS Makassar City Center MAIPA, Jalan Maipa, Kota Makassar, Sabtu (22/11/2025).
Awarding ini merupakan buah kerjasama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, United Nations Children’s Fund (UNICEF) Wilayah Sulawesi dan Maluku, Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-Dalduk) Sulsel.
Prof. Muhammad Jufri menyatakan, pesantren ramah anak adalah lingkungan pesantren yang tentunya aman, sehat, dan peduli terhadap hak-hak anak. Termasuk perlindungan dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya.
“Saya kira (program) ini sebagai sebuah momentum penting yang menandai ikhtiar kita dalam membangun lingkungan pesantren yang semakin aman, inklusif, dan ramah bagi masa depan anak-anak bangsa. Sebagai Gubernur Sulsel, saya memandang kegiatan ini merupakan bagian dari perjalanan panjang kita dalam memperkuat ekosistem pendidikan keagamaan yang adaptif terhadap setiap tantangan saat ini. Pesantren adalah benteng peradaban, pusat peradaban, sekaligus rumah pembentukan karakter generasi bangsa,” papar Muhammad Jufri membacakan sambutan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman.
Karena itu, sambung Muhammad Jufri, seluruh pihak harus memastikan bahwa pesantren adalah rumah yang aman, penuh dengan kasih sayang, serta melindungi santri dari perlakuan negatif lainnya. “Tentunya ini merupakan kewajiban moral kita bersama,” tegasnya.
Program Pesantren Ramah Anak, lanjut Muhammad Jufri, pastinya lahir dari proses yang tidak sederhana. Dia terbangun dari kolaborasi yang kuat antarsemua pihak terkait. “Kolaborasi ini kemudian melahirkan sebuah instrumen pesantren ramah anak yang komprehensif, terukur, dan relevan dengan kebutuhan saat ini,” terangnya.
Intrsumen tersebut terdiri dari lima indikator, yakni kelembagaan, sarana dan prasanan, proses pembelajaran, partisipasi dan muamalah santri, kemudian inovasi.
“Indikator buka hanya alat ukur, melainkan sekaligus menjadi panduan budaya pendidikan pesantren yang komprehensif dan berkelanjutan,” katanya.
Proses seleksi Pesantren Ramah Anak se Sulsel 2025 telah dilakukan melalui tahapan yang sangat ketat. Baik melalui verifkasi adminstrasi, verifikasi lapangan, dan persentase atau wawancara yang telah menggambarkan capaian, tantangan, dan inovasi setiap pesantren.
“Kami yakin semua prosesnya dilakukan sangat transparan sehingga terpilih pesantren terbaik yang akan menerima penghargaan dan tentunya menjadi pelopor pesantren ramah anak di Sulawesi Selatan,” ujar Muhammad Jufri.
Lebih jauh, Muhammad Jufri memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dedikasinya yang luar biasa. Untuk itu, dia berharap, program Pesantren Ramah Anak ini terus berlanjut.”Saya kira program ini bukan hanya menjadi standar perlindungan, tapi akan menjadi budaya di seluruh pondok pesantren di Sulawesi Selatan,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Sulsel, Dr. H. Muhammad Yunus, S.Ag., M.Ag, berharap pondok pesantren terus memegang prinsip inklusivitas, yaitu prinsip dasar yang mengutamakan keterbukaan, kesetaraan, dan penerimaan terhadap semua individu tanpa diskriminasi.
“Kita harus menjadi fasilitatif terhadap terciptanya pesantren yang ramah anak. Untuk itu, pesantren harus transparan dan terbuka. Tidak boleh ada yang disembunyikan jika terjadi pelanggaran-pelanggaran. Ini untuk berbenah diri agar kejadian yang tidak diinginkan bisa teratasi,” terangnya.
Menurut Yunus, ada kalanya pondok pesantren menyembunyikan jika terjadi pelanggaran. Untuk itu, Kemenag mendorong semua pihak agar terlibat dalam menciptakan pesantren ramah anak.
“Wujud nyata dari awarding ini adalah untuk kita jadikan sebagai bahagian yang mampu menstimulus seluruh pondok pesantren agar benar-benar bisa menciptakan pesantren ramah anak,” jelasnya.
Tujuan utama dari program Pesantren Ramah Anak adalah menciptakan suasana yang nyaman dan inklusif bagi para santri. Dengan demikian, anak-anak dapat merasa aman dan didukung penuh untuk tumbuh kembang secara optimal, baik dari segi rohani, jasmani, maupun sosial.
Program penting ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah melalui berbagai inisiatif yang diluncurkan oleh Kementerian Agama. Selain itu, kolaborasi erat dengan lembaga internasional seperti UNICEF juga menjadi pilar utama dalam implementasi program ini di berbagai daerah.
Muhammd Yunus, pun berpesan kepada tujuh pesantren yang menerima penghargaan dengan masing-masing kategori terus menjaga diri karena menjadi panduan bagi pesantren lain di Sulawesi Selatan.
“Ada tujuh pesantren menerima penghargaan dengan kategori masing-masing. Dan, ada satu pesantren mencakup seluruh kategori tersebut. Tentunya itu menjadi panduan bagi semua pensatren di Sulsel. Dengan predikat ini seluruh pembina tentu harus menjaga diri, jangan sampai sudah menerima award akan tetapi ada perilaku yang tidak sesuai. Sehingga ini tanggung jawab kita semua,” paparnya.
Sementara itu, Ketua LP2M UIN Alauddin Makassar Dr Hj Rosmini,M Th.I yang juga Ketua Panitia Puncak Awarding Pesantren Ramah Anak Sulawesi Selatan Tahun 2025, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan sebuah acara yang sangat mulia dengan proses cukup panjang. “Kurang lebih dua bulan kami memproses kegiatan ini. Dan, hari ini adalah kegiatan puncak awarding,” katanya.
Rosmini menjelaskan bahwa sebelumnya ada beberapa tahapan dilewati. Mulai dari pemeriksaan berkas, tahapan verifikasi lapangan, hingga wawancara. “Tahapannya cukup panjang. Bahwa kegiatan ini adalah apresasi terhadap pesantren atas kerja kerasnya dalam menyelenggarakan pesantren yang memenuhi prinsip perindungan anak. Yang ingin kita lihat adala bagaimana prinsip perlindungan anak itu diterapkan di pesantren,” pungkasnya.
Rosmini menuturkan ada instrumen yang panitia diskusikan terhadap seluruh pesantren untuk menentukan siapa pesantren terbaik. “Saya pastikan semua juri dalam kegiatan ini telah menandatangani pakta integritas agar dalam penilaian bisa dilakukan secara jujur, transparan, sehingga pesantren yang memiliki semua kriteria bisa masuk dalam pesantren terbaik,”jelasnya.
Rosmini mengungkapkan ada 73 pesantren yang ikut dalam proses Awarding Pesantren Ramah Anak Sulawesi Selatan Tahun 2025. Dari jumlah tersebut mengerucut menjadi 15 besar. Kemudian 11 besar hingga menjadi tujuh pesantren.
“Pesantren yang memperoleh predikat terbaik harus menjadikan tantangan untuk menjadi lebih baik. Pesantren dengan predikat terbaik diharapkan mampu menjadi rujukan bagi pesantren lain di Sulawesi Selatan dalam mengutamakan perlindungan dan kesejahteraan anak,” ujarnya.
Adapun pondok pesantren yang menerima award atau penghargaan, yakni Pesantren Puteri Ummul Mukminin Aisyiyah Makassar sebagai Pesantren Ramah Anak Terbaik Sulawesi Selatan (Sulsel) 2025.
Kemudian, enam pesantren lainnya yang juga mendapatkan award dari masing-masing kategori. Antara lain; Pesantren Ramah Anak Kategori Inovasi Terbaik Sulawesi Selatan diperoleh Pesantren IMMIM Makassar, Pesantren Ramah Anak Kategori Partsipasi Santri Terbaik Sulawesi Selatan diperoleh Pesantren Babul Khaer Bulukumba.
Selanjutnya, Pesantren Ramah Anak Kategori Sistem Pengasuhan Terbaik Sulawesi Selatan diperoleh Pesantren Al Ikhlas Ujung Bone, Pesantren Ramah Anak Kategori Lingkungan Asri dan Aman Terbaik Sulawesi Selatan diperoleh Pesantren Al Ikhlash Addary DDI Takkalasi Barru.
Kemudian Pesantren Ramah Anak Kategori Kebijakan /Regulasi Terbaik Sulawesi Selatan diperoleh Pesantren Sultan Hasanuddin Gowa, serta Pesantren Ramah Anak Kategori Kemitraan Terbaik Sulawesi Selatan diperoleh Pesantren As’adiyah Pusat Sengkang Wajo. Penghargaan ini diberikan langsung Ketua LP2M UIN Alauddin Makassar, Dr Hj Rosmini,M Th.I dan Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Wilayah Sulawesi dan Maluku Henky Widjaja,Ph.D.
Rosmini menegaskan bahwa seluruh pesantren yang menerima penghargaan telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan secara komprehensif. Oleh karena itu, mereka layak menjadi contoh dan inspirasi bagi pesantren lainnya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung tumbuh kembang santri.
UNICEF Laksanakan Pesantren Ramah Anak Sejak Tahun 2022
Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Wilayah Sulawesi dan Maluku Henky Widjaja,Ph.D mengatakan, kegiatan Pesantren Ramah Anak ini telah dilaksanakan sejak tahun 2022 di tiga provinsi, yakni di Provinsi Aceh, Jawa Tengah dan Sulsel yang bekerjasama dengan Kementerian Agama RI.
Di Sulsel, Program Pesantren Ramah Anak ini terwujud melalui kemitraan UNICEF dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
“Kegiatan ini diawali dengan dua pesantren pilot project yakni Pesantren Sultan Hasanuddin Gowa dan Pondok Madinah Kota Makassar. Kami berterimakasih atas keberhasilan pilot project tersebut,” terang Henky.
Henky menambahkan, dari pilot project tersebut kemudian berhasil digulirakan ke 25 pesantren lannya yang tersebar di lima kabupten/kota di Sulsel, yakni di Kota Makassar, Kabupaten Maros, Gowa, Bone, dan Kabupaten wajo.”Tentunya kami berharap akan terus berkembang ke lebih banyak pesantren lagi,” harapnya.
Henky menegaskan, tujuan Program Pesantren Ramah Anak ini adalah mewujudkan pesantren sebagai lingkungan belajar dan tumbuh kembang dengan memiliki prinsip; perlindungan anak, prasarana, metode pembelajaran, pola asuh, dan juga interaksi sosial. “Tujuan-tujuan ini akan menjadi peluasan kelembagaan dan penguatan SOP, pendirian lembaga khusus penanganan kasus-kasus santri,” katanya.
“Kami juga memperkuat kapasitas pengasuh dan pengajar untuk melaksanakan pengasuhan positif dan pelaksanaaan displin positif, kemampuan untuk menangani hal terbaru yang berkaitan dengan internet atau media online, serta kasus seksual. Ini merupakan ancaman yang saat ini kita hadapi di dunia, termasuk Indonesia dengan maraknya kekerasan seksual di ranah internet.
Lebih jauh, Henky berharap santri harus pro aktif melakukan pencegahan bullying. Salah satunya harus berani menjadi pelopor pelapor. “Santri harus didorong menjadi pelapor jika ada aksi negatif di dalam pesantren,” tegasnya.(*)












