Nilai Tukar Petani Turun 0,08%

Nilai Tukar Petani Turun 008
FOTO:INT//NTP Maret 2026 tercatat sebesar 125,35 atau turun 0,08% dibandingkan Februari 2026.

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2026 mengalami penurunan tipis, dengan subsektor hortikultura menjadi yang paling tertekan akibat penurunan harga komoditas di tingkat petani.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan NTP Maret 2026 tercatat sebesar 125,35 atau turun 0,08% dibandingkan Februari 2026. “Penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani ini naik 0,33% lebih rendah dibandingkan peningkatan indeks harga yang dibayar petani yang meningkat 0,41%,” kata Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Sebagai gambaran, jika NTP naik, maka harga hasil panen petani naik lebih cepat daripada harga barang-barang yang mereka beli. NTP sendiri merupakan indikator yang mengukur kemampuan daya beli petani di pedesaan, menunjukkan seberapa baik mereka bisa bertukar produk pertanian dengan barang dan jasa yang dibutuhkan.

Bacaan Lainnya

Adapun, NTP dihitung dengan membandingkan indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib). BPS mencatat sejumlah komoditas dominan mendorong kenaikan indeks harga yang diterima petani secara nasional, antara lain kelapa sawit, karet, ayam ras pedaging, serta kol atau kubis.

Namun demikian, berdasarkan subsektor, hortikultura (NTPH) mencatat penurunan NTP terdalam yakni sebesar 0,67%. Kondisi ini dipengaruhi oleh turunnya indeks harga yang diterima petani sebesar 0,11%, sementara indeks harga yang dibayar justru meningkat 0,56%.

Lebih lanjut, Ateng menuturkan komoditas yang dominan memengaruhi penurunan indeks harga yang diterima pada subsektor hortikultura meliputi bawang merah, cabai merah, dan wortel.

Di sisi lain, BPS mencatat nilai tukar nelayan (NTN) justru mengalami kenaikan sebesar 0,65%. Peningkatan ini didorong oleh naiknya indeks harga yang diterima sebesar 0,95%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar sebesar 0,30%.

Ateng menyampaikan komoditas utama yang menopang kenaikan NTN antara lain udang laut, teri, kembung, cakalang, dan tongkol.(*)

Pos terkait