Ilusi Miliarder di Iran dan Tantangan Pelaporan Akuntansi di Tengah Hiperinflasi

ok
Farhan dwinanda H, S.AK., M.AK.

OLEH: FARHAN DWINANDA H, S.AK., M.AK.
——————————————————–
Dosen Akuntansi, Universitas Negeri Makassar

Anjloknya nilai tukar Rial Iran yang kini menembus 1,04 juta per dolar AS, atau sekitar 59.663 Rial per Rupiah, menciptakan fenomena unik yang mengecoh.
Bayangkan, hanya dengan membawa Rp10 juta ke Teheran, warga Indonesia bisa mendadak memiliki hampir 600 miliar Rial. Namun, dalam kacamata akuntansi, tumpukan angka nol yang panjang ini bukanlah tanda kekayaan, melainkan sinyal kehancuran daya beli yang sistemik.

Kondisi Iran adalah contoh nyata dari situasi yang diatur dalam standar akuntansi yakni PSAK 63 (IAS 29) mengenai Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi Hiperinflasi. Dalam keadaan normal, akuntansi menggunakan biaya historis (historical cost) sebagai acuan.

Bacaan Lainnya

Namun, ketika mata uang rontok sedalam ini, angka dalam buku besar menjadi tidak relevan karena tidak lagi mencerminkan nilai wajar. Akuntansi pun mewajibkan penyajian kembali (restatement) laporan keuangan menggunakan indeks harga umum agar informasi yang disajikan tidak menyesatkan para pengambil keputusan.

Lebih parah lagi, hiperinflasi ini menghancurkan prinsip penandingan (matching concept) dalam akuntansi. Pendapatan yang diterima hari ini tidak akan sanggup menutupi Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk membeli kembali stok barang di keesokan pagi. Hal ini memicu fenomena “Laba Semu” perusahaan seolah-olah terlihat untung besar secara nominal, padahal secara riil modal mereka sedang tergerus hebat (capital erosion).

Selain itu, Bagi pelaku bisnis menyimpan Rial bukan lagi investasi, melainkan risiko. Akuntansi mengajarkan bahwa uang tunai dalam kondisi hiperinflasi akan terus mengalami kerugian daya beli (purchasing power loss) setiap detiknya.

Dengan volatilitas mencapai 2.388% setahun, laba operasional perusahaan bisa seketika habis tak berbekas akibat kerugian selisih kurs (unrealized forex loss) saat laporan keuangan dikonsolidasikan kembali ke mata uang yang lebih stabil seperti Rupiah.

Pada akhirnya, menjadi “miliarder” dengan modal Rp10 juta di Iran hanyalah sebuah ilusi moneter. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa dalam akuntansi, angka hanyalah simbol; nilai yang sesungguhnya terletak pada stabilitas daya beli.

Bagi dunia usaha, situasi di Iran saat ini bukan lagi tentang mencari laba dari selisih kurs, melainkan perjuangan eksistensial untuk bertahan hidup di tengah runtuhnya satuan hitung ekonomi yang stabil.(*)

Pos terkait