Bukukan Rp20 Triliun di 2025, Laba Bersih BNI Turun 6,97% Secara Tahunan

BNI
Menara BNI/INT

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025 di tengah volatilitas ekonomi global dan penyesuaian kebijakan moneter.

Bank pelat merah ini membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp20 triliun, ditopang pertumbuhan kredit yang sehat, struktur pendanaan yang kuat, serta kualitas aset yang terus membaik. Jika dibandingkan tahun 2024, laba bersih BBNI sebesar Rp21,5 triliun, maka laba BBNI menurun 6,97% secara tahunan.

Hingga akhir 2025, kredit BNI tumbuh 15,9% secara tahunan, didukung ekspansi ke sektor-sektor produktif. Pertumbuhan tersebut utamanya didanai oleh dana murah alias current account saving account (CASA) meningkat 28,9% secara year on year (yoy), dengan pertumbuhan giro mencapai 43,8% yoy dan tabungan naik 11,2% yoy.

Bacaan Lainnya

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, kinerja tersebut mencerminkan ketahanan fundamental dan model bisnis BNI di tengah tekanan eksternal. “Meski menghadapi volatilitas global dan dinamika suku bunga, BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta penyaluran kredit ke sektor produktif,” ujar Putrama dalam keterangan resmi, Selasa (3/2/2026).

Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) BNI tercatat 20,7%, jauh di atas ketentuan regulator. Kondisi ini memberikan ruang yang memadai bagi perseroan untuk melanjutkan ekspansi bisnis sekaligus menyerap potensi risiko ke depan.

Momentum akselerasi bisnis terlihat pada kuartal IV-2025. BNI membukukan pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) sebesar Rp 9,4 triliun, tertinggi dibandingkan tiga kuartal sebelumnya. Kinerja ini didorong oleh kinerja pendapatan bunga dan pendapatan non bunga.

Secara kumulatif sepanjang 2025, pendapatan bunga bersih BNI tercatat Rp 40,3 triliun, meski loan yield tertekan seiring penurunan suku bunga acuan. Sementara itu, pendapatan non bunga tumbuh 5,2% yoy menjadi Rp 24,6 triliun, ditopang peningkatan transaksi digital, aktivitas treasury, trade finance, serta peningkatan produktivitas jaringan cabang.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menuturkan, strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci menjaga kinerja intermediasi tetap berimbang. “Pengelolaan neraca difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan permodalan yang kuat,” kata Paolo.

Dari sisi kualitas aset, BNI mencatat perbaikan berkelanjutan. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto turun menjadi 1,9%, membaik 10 basis poin yoy. Sementara itu, rasio loan at risk (LaR) tercatat 8,5%, membaik 1,8% yoy, dan telah kembali ke level sebelum pandemi.

BNI juga memperkuat pencadangan, tercermin dari NPL coverage ratio sebesar 205,5% dan LaR coverage ratio sebesar 46,9%, yang menunjukkan tingkat kehati-hatian yang tinggi dalam mengantisipasi risiko kredit. “Kami terus memperkuat proses underwriting dan pemantauan portofolio secara granular dengan dukungan data analytics dan early warning system,” ujar Paolo.

Di sisi digital, BNI terus mengembangkan wondr by BNI sebagai personal transaction platform. Hingga akhir 2025, jumlah pengguna wondr by BNI telah melampaui 12 juta pengguna, dengan tingkat keaktifan transaksi yang lebih tinggi dibandingkan platform sebelumnya. Kondisi ini berkontribusi terhadap pertumbuhan tabungan ritel dan penguatan CASA.

Untuk segmen korporasi, platform BNIdirect mencatat pertumbuhan jumlah pengguna dan nilai transaksi lebih dari 25% yoy, yang turut mendorong peningkatan dana giro korporasi.(*)

Pos terkait