BSI Prioritas Genjot Literasi Emas Lewat Wealth Insight

BSI Prioritas Genjot Literasi Emas Lewat Wealth Insight
PRIORITAS. Dari Kanan, Rista Zwestika, Sharia Financial Planner, Riko Wardhana, SVP Bullion Business Banking Bank Syariah Indonesia, serta moderator pada gelaran BSI Wealth Insight "Golden Step Into the Future" di Novotel Hotel, Makassar, pekan lalu. BSI Prioritas hadir sebagai sahabat financial menghadirkan insight peluang dan tantangan investasi emas di era bullion baking yang semakin berkembang.

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) melalui layanan BSI Prioritas menggelar BSI Wealth Insight bertajuk “Golden Step Into the Future”, yang memberikan pemahaman mendalam kepada nasabah prioritas terkait peluang investasi emas di era bullion banking.

Acara eksklusif yang digelar di Novotel Hotel Makassar ini menjadi wadah diskusi strategis mengenai prospek emas sebagai instrumen investasi yang dinilai aman, inklusif, dan berkelanjutan. BSI juga memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan literasi finansial nasabah di tengah dinamika pasar dan perkembangan produk investasi berbasis syariah.

Regional CEO (RCEO) Regional X BSI Makassar, Sukma Dwie Priardi, mengatakan emas kini tidak lagi sekadar aset lindung nilai, tetapi telah berkembang menjadi bagian penting dalam strategi pengelolaan kekayaan modern.

Bacaan Lainnya

“Dalam beberapa tahun terakhir, emas semakin menunjukkan perannya sebagai instrumen investasi strategis. Perkembangan bullion banking membuka ruang bagi BSI untuk menghadirkan inovasi produk kepemilikan emas, baik fisik maupun digital, yang lebih aman, transparan, dan mudah diakses oleh nasabah,” ujar Sukma.

Komitmen tersebut tercermin dari kinerja bisnis emas BSI yang terus mencatatkan pertumbuhan signifikan. Hingga Triwulan III 2025, bisnis emas menjadi salah satu motor pertumbuhan BSI dengan nilai mencapai Rp18,76 triliun atau tumbuh 72,82 persen secara tahunan (year on year).

“Capaian tersebut didorong oleh produk Cicil Emas yang tumbuh 106,36 persen (YoY) menjadi Rp10,32 triliun, serta Gadai Emas yang meningkat 44,19 persen (YoY) dengan nilai Rp8,44 triliun. Selain itu, Tabungan E-Mas BSI mencatat saldo kelolaan mencapai 1,15 ton, dengan total penjualan 1,69 ton dan jumlah nasabah (CIF) sekitar 200 ribu rekening,” jelas dia.

Dalam forum Wealth Insight, para pakar turut membahas sejumlah isu penting, mulai dari arah pengembangan bullion banking, strategi investasi emas yang adaptif, hingga keunggulan kepemilikan emas secara fisik dibandingkan kanal digital. Sukma menambahkan, di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas tetap menjadi aset favorit investor.

“Emas memiliki fungsi safe haven dan potensi peningkatan nilai jangka panjang. Dengan produk yang tepat, emas dapat menjadi fondasi dalam membangun ketahanan dan kemandirian finansial. Bisnis emas BSI juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi emas nasional,” jelasnya.

BSI, lanjut Sukma, terus menyesuaikan produk sesuai kebutuhan dan profil risiko nasabah. Melalui platform digital Byond by BSI, nasabah kini dapat berinvestasi emas secara praktis, kapan saja dan di mana saja, tanpa mengesampingkan prinsip syariah.

Melalui kegiatan ini, BSI berharap dapat memperkuat keterikatan dengan nasabah BSI Prioritas sekaligus menegaskan posisinya sebagai mitra tepercaya dalam pengelolaan kekayaan syariah.” Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang BSI untuk menjadi pemimpin industri perbankan syariah sekaligus bank emas pilihan masyarakat Indonesia. Hingga Triwulan III 2025, segmen wealth management BSI telah melayani lebih dari 70 ribu nasabah prioritas,” terang dia.

Beragam produk ditawarkan, mulai dari emas (Tabungan E-Mas, BSI Gold, Cicil Emas dan Gadai Emas), Reksa Dana Syariah, Sukuk, hingga produk bancassurance. “BSI Prioritas juga melengkapi layanannya dengan fasilitas eksklusif seperti konsultasi waris serta layanan Hajj dan Umrah Concierge,” kunci dia. (#)

Pos terkait