RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Menjelang Idulfitri, Bank Indonesia memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui dukungan penyaluran kredit pangan guna menjaga stabilitas harga di tengah meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan.
Upaya ini ditempuh untuk mendukung daya beli serta menjaga inflasi 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Stabilitas harga pangan menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat, khususnya pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Karena itu, pengendalian inflasi diperkuat melalui koordinasi dari hulu hingga hilir.
Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, saat hadir menyampaikan keynote speech pada seminar bertajuk “Ramadan Tenang, Harga Terkendali: Optimalisasi Kredit Pangan untuk Stabilisasi Pasar”, di Jakarta (2/3/2026).
Aida menambahkan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, perekonomian Indonesia tetap berdaya tahan. Fragmentasi perdagangan dan volatilitas pasar keuangan internasional memengaruhi perekonomian domestik pada tiga jalur utama. Pertama, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, termasuk pangan, sehingga mendorong inflasi.
Kedua, gejolak pasar keuangan dapat memengaruhi nilai tukar yang berdampak pada harga barang impor dan stabilitas harga dalam negeri. Ketiga, perlambatan perdagangan global dapat menekan pertumbuhan ekonomi, yang kemudian memengaruhi dinamika permintaan dan inflasi.
“Dalam menghadapi tantangan tersebut, Bank Indonesia menempuh strategi 3K, yaitu kebijakan yang terintegrasi, kolaborasi erat dengan Pemerintah, serta komitmen untuk terus berada di pasar guna meredam gejolak dan memastikan inflasi tetap sesuai sasaran,” ujar Aida.
Dengan strategi tersebut, sambung Aida, pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 tercatat 5,39% (yoy) dan diprakirakan berada dalam kisaran 4,9–5,7% pada 2026. Kinerja ini didukung konsumsi masyarakat, peningkatan belanja pada periode HBKN, serta belanja Pemerintah di awal tahun. Dari sisi harga, inflasi Februari 2026 tercatat 4,76% (yoy), dipengaruhi faktor base effect kebijakan diskon tarif listrik pada awal 2025.
“Namun secara fundamental, inflasi inti tetap rendah, meskipun komponen pangan bergejolak (volatile food) perlu terus dijaga stabilitasnya karena sensitif terhadap lonjakan permintaan masyarakat, kondisi cuaca dan gangguan distribusi,” katanya.
Menurutnya, penguatan pengendalian inflasi dilakukan melalui tujuh program unggulan, termasuk diantaranya hilirisasi pangan, optimalisasi kerjasama daerah, operasi pasar murah, serta komunikasi kebijakan untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terjangkar. Menjelang HBKN, langkah tersebut difokuskan pada strategi 4K, yaitu menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, dan memperkuat komunikasi kebijakan.
“Implementasinya dilakukan melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) dengan pendekatan sesuai karakteristik wilayah dan komoditas strategis,” sambungnya.
Sebagai bentuk sinergi, Direktur Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menegaskan langkah-langkah penguatan ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga terus dilakukan Bapanas guna memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
I Gusti menyatakan, stabilitas inflasi tersebut juga memberikan ruang bagi sistem keuangan nasional untuk terus mendukung pertumbuhan. Kredit perbankan pada Januari 2026 tumbuh 9,96% (yoy) dan diprakirakan berada dalam kisaran 8–12% sepanjang 2026.
Untuk memperkuat pembiayaan ke sektor prioritas, Bank Indonesia mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan total insentif yang diterima bank sebesar Rp427,5 triliun hingga awal Februari 2026. Insentif ini diarahkan antara lain ke sektor Pertanian, Industri dan Hilirisasi, Jasa, Konstruksi Dan Perumahan, serta UMKM guna memperkuat kapasitas produksi dan pasokan domestik. (*)











