Penulis : Farhan Dwinanda Hanisyahputra, S.Ak., M.Ak.
—————————————————————–
Dosen S1 Akuntansi, Universitas Negeri Makassar
MEMASUKI hari ke-20 Ramadan 1447, suasana batin umat Islam biasanya mulai bergeser dari sekadar rutinitas fisik menuju fase refleksi yang lebih dalam. Dalam kacamata akuntansi, Ramadan bukan sekadar periode penahanan konsumsi, melainkan sebuah siklus “pelaporan keuangan spiritual” yang sangat intens.
Jika dalam dunia korporasi kita mengenal konsep return on investment (ROI), maka janji pelipatgandaan pahala di hari ke-20 ini merupakan bentuk keuntungan investasi yang melampaui logika matematika ekonomi konvensional.
Sebagai akademisi, kita dapat melihat doa hari ke-20 yang memohon pembukaan pintu surga dan penutupan pintu neraka sebagai bentuk manajemen risiko jangka panjang yang paling hakiki. Permohonan ketenangan hati (as-sakinah) dalam doa tersebut merupakan aset tak berwujud (intangible asset) yang sangat mahal harganya di tengah volatilitas dunia saat ini.
Dalam akuntansi modern, kita sering bicara tentang human capital, namun Ramadan mengajarkan kita tentang spiritual capital. Kemampuan untuk membaca dan meresapi Al-Qur’an, sebagaimana yang dipanjatkan dalam doa tersebut, adalah proses peningkatan kapasitas diri (up-skilling) secara moral yang akan berdampak pada integritas seseorang saat kembali ke dunia kerja atau profesinya.
Lebih jauh lagi, momen ini adalah waktu yang tepat bagi para akuntan dan profesional untuk melakukan self-audit. Apakah “neraca kehidupan” kita selama setahun terakhir sudah seimbang, atau justru terlalu banyak “kewajiban” moral yang belum tertunaikan kepada sesama? Ramadan melatih kita untuk jujur terhadap diri sendiri sebelum nantinya menghadapi audit final di hadapan Sang Pencipta.
Dengan memanfaatkan keistimewaan hari ke-20 ini, kita sebenarnya sedang melakukan restrukturisasi aset batin agar lebih kuat menghadapi dinamika kehidupan setelah Ramadan usai.
Akhirnya, Ramadan mengajarkan bahwa nilai keberhasilan tidak selalu diukur dari apa yang tampak di permukaan atau apa yang bisa dihitung dengan nominal rupiah. Keberhasilan sejati adalah ketika seorang hamba mampu mengoptimalkan setiap “transaksi kebaikan” di bulan suci ini untuk mendapatkan ketenangan hati.
Bagi seorang akademisi akuntansi, Ramadan adalah pengingat bahwa di atas standar akuntansi yang dibuat manusia, ada standar keadilan Tuhan yang mencatat setiap niat dan usaha dengan ketelitian yang sempurna.







