RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 menjadi momentum bagi pelaku UMKM Sulawesi Selatan memperluas akses pasar global. Melalui fasilitasi business matching ekspor Bank Indonesia (BI) Sulsel, tujuh UMKM Sulsel berhasil menyepakati Letter of Intent (LOI) dengan sejumlah buyer luar negeri dengan potensi transaksi lebih dari Rp380,75 juta.
KKI 2026 digelar pada 20-23 Agustus 2026 dengan mengusung semangat Beudaya Meusare Sare yang berarti “Berdaya Bersama-sama”. Dalam kegiatan business matching ekspor yang berlangsung pada 20-22 Agustus, sejumlah produk unggulan UMKM Sulsel dipertemukan dengan calon pembeli dari berbagai negara.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, mengatakan BI berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi supply maupun demand. Dari sisi supply, Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) memberikan insentif likuiditas kepada perbankan yang menyalurkan pembiayaan kepada UMKM.
“Sementara itu, Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) mendorong perluasan pembiayaan inklusif. Dari sisi demand, digitalisasi pembayaran memanfaatkan QRIS membangun rekam jejak usaha,” ujar Aida.
Menurutnya, penguatan ekosistem pembiayaan UMKM ke depan membutuhkan komitmen yang konsisten, inovasi yang adaptif serta sinergi yang semakin erat antara Bank Indonesia, pemerintah, sektor keuangan dan pemangku kepentingan lainnya.
Sementara itu, Kepala KPw BI Sulsel Rizki Ernadi Wimanda menegaskan bahwa, BI Sulsel terus memperkuat pengembangan UMKM dari hulu hingga hilir.
Upaya tersebut mencakup peningkatan kapasitas usaha, penguatan rekam jejak keuangan, peningkatan visibilitas UMKM hingga perluasan akses pasar melalui program UMKM Rewako (Resilient, World Class, Agile, dan Knowledgable).
Dalam KKI 2026, BI Sulsel memfasilitasi 14 sesi business matching ekspor secara offline dan satu sesi secara online. Sejumlah UMKM yang terlibat di antaranya Kopi Luwak Malino dari Gowa, CV Panrita Jaya Group, Kopivolusi Niwa Indonesia, Sehati Kopi dan PT Bunly Abadi Bersama dari Makassar, serta My Coffeeza Indonesia dan CV Al Razak Corp dari Enrekang.
Dari tujuh UMKM yang mengikuti business matching, nilai LOI terbesar diperoleh Kopi Luwak Malino melalui produk kopi Arabica Malino dengan PT Cahaya Abadi Terbit dari Kanada senilai Rp245 juta.
Selanjutnya, CV Panrita Jaya Group dengan produk kopi Arabica Toraja dan Arabica Enrekang memperoleh LOI dengan PT Sumber Kurnia Alam dari Singapura senilai Rp92,25 juta. Kopi Luwak Malino juga mencatat kesepakatan dengan PT Sumber Kurnia Alam dari Singapura senilai Rp32 juta.
Selain kesepakatan LOI tersebut, sejumlah produk UMKM Sulsel masih menjalani proses market test dan pengiriman sample product. My Coffeeza Indonesia dengan produk kopi Arabica Enrekang tengah menjajaki pasar melalui Indonesia Specialty Coffee (ISC) dan Indonesia Trading House Guangzhou (ITHG) di Tiongkok.
Kopivolusi dengan produk kopi Arabica juga menjajaki pasar Amerika Serikat melalui Dua DC Coffee. Sementara PT Bunly Abadi Bersama dengan produk kacang mete tengah menjajaki pasar melalui Toko Indo di Singapura dan Etoobai di Amerika Serikat.
Selain akses pasar, KKI 2026 turut menjadi momentum penguatan pembiayaan UMKM. Hingga Juli 2026, fasilitasi business matching pembiayaan yang dilakukan BI telah mencapai Rp285 miliar, terdiri dari pembiayaan inklusif Rp150 miliar dan pembiayaan berkelanjutan Rp135 miliar. Capaian tersebut masih berpotensi bertambah seiring realisasi pembiayaan hingga akhir 2026. (*)









